• Selasa, 6 Desember 2022

Generasi Muda Harus Tahu Sejarah, Makna Dan Nilai Hari Pahlawan Dalam Menghadapi Tantangan Global

- Jumat, 11 November 2022 | 09:39 WIB
Yan Hariranto, Aktivis Sumatera Selatan
Yan Hariranto, Aktivis Sumatera Selatan

Oleh : Yan Coga

"Bangsa yang besar ialah bangsa yang menghargai dan menghormati jasa para pahlawannya".

Kata-kata mutiara itu sering kita dengar, dan sangatlah tepat bila dijadikan penggugah semangat atau rasa hormat kebanggaan kita kepada para pahlawan bangsa yang berjuang demi kemerdekaan. Dimana dalam kata-kata itu terdapat makna dan nilai serta moral sebagai salah satu pesan konstruktif bagi bangsa dan masyarakat khususnya kepada generasi muda sekarang ini.

Seperti kita ketahui, bahwa hari ini, 10 November, kita memperingati Hari Pahlawan, dimana hari ini tercatat dalam sejarah Republik Indonesia sebagai salah satu peristiwa penting terjadinya pertempuran di Surabaya. Pertempuran yang terjadi pada 10 November 1945 lalu merupakan pertempuran besar pasca kemerdekaan Indonesia.

Berakhirnya Perang Dunia II pada tahun 1945 dan setelah Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia 17 Agustus 1945, situasi di Indonesia belum stabil. Indonesia masih bergejolak, terutama antara rakyat dengan tentara asing khususnya pasukan Sekutu dan Jepang. Kedatangan pasukan asing (Sekutu) ke Indonesia, sebagai pemenang Perang Dunia II, dimana Inggris tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) datang bersama dengan tentara NICA (Netherlands Indies Civil Administration) untuk melucuti tentara Jepang dan, membebaskan tawanan perang yang ditahan oleh Jepang.

Kedatangan pasukan Sekutu ini dicurigai oleh para pejuang untuk mengembalikan Indonesia sebagai negara jajahan Belanda. Kecurigaan itu memuncak ketika sekelompok orang Belanda mengibarkan bendera Belanda di Hotel Yamato, Surabaya, tanpa persetujuan Pemerintah Republik Indonesia di Surabaya. Hal ini memicu kemarahan warga Surabaya dan mereka menganggap Belanda menghina kemerdekaan Indonesia dan melecehkan bendera Merah Putih.

Rakyat Surabaya memprotes dengan berkerumun di depan Hotel Yamato tersebut. Mereka meminta bendera Belanda segera diturunkan dan akhirnya rakyat berhasil merobek bagian biru bendera Belanda sehingga bendera menjadi Merah Putih.

Setelah kejadian itu pihak Indonesia dan Inggris sepakat menandatangani perjanjian. Namun terjadi satu peristiwa berdarah yang menyebabkan Brigadir Jenderal Mallaby, pimpinan tentara Inggris tewas tertembak dan mobil yang ditumpanginya di ledakan oleh pejuang. Kejadian ini menimbulkan kemarahan besar Pemerintah Inggris terhadap para pejuang.

Melalui Mayor Jenderal Robert Mansergh, pengganti Mallaby, ia mengeluarkan ultimatum yang menyebutkan bahwa semua pimpinan dan pejuang serta orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan. Batas ultimatum itu pada pukul 06.00, pada 10 November 1945.

Halaman:

Editor: Awan A

Tags

Terkini

Cik Ditangkap Polisi di Pondok Transaksi

Sabtu, 22 Oktober 2022 | 18:35 WIB

Yan Coga Resmi Nakhodai FSP PPMI SPSI Sumsel

Kamis, 29 September 2022 | 07:03 WIB

IWO Organisasi Pers yang Berbeda dengan IWOI

Rabu, 31 Agustus 2022 | 07:47 WIB

Terpopuler

X